Impian itu timbul sejak masih kanak-kanak. Tentang menikah. Betapa saya sejak masih belia telah mengamati adegan2 di film [bahkan sinetron], gambar2 di majalah, bahkan novel percintaan picisan pun banyak: tentang laki2 menyematkan cincin dan berbisik pada perempuannya “Will you marry me?”. Indah sekali. Saya tak pernah bosan mengamati maupun mendengar cerita tentang mariage proposal dari manapun, dari siapapun. Seiring waktu, cara2 laki2 dalam mengungkapkan “will you marry me?“-nya pun semakin unik, semakin romantis, bahkan adakalanya perlu perjuangan yang hebat.
Sejak belia, saya selalu ikut berkaca2…trenyuh..terharu, menyaksikan wajah bahagia sang perempuan dalam menerima pinangan. Ada yang shock sampai speechless, ada yang memekik girang, ada yang tersedu2 terharu… pada initinya: sulit dilukiskan dengan kata2 betapa cantiknya ekspresi itu. Mungkin benar, bahwa saat2 itu merupakan salah satu momen paling membahagiakan bagi perempuan, seumur hidupnya. Salut saya buat para laki2 yang mau berusaha demi momen terindah itu.
Banyak cara yang dapat ditempuh, seandainya mau. Tidak harus dengan berlian mahal [dengan cincin yang dirangkai dari rumput pun bisa romantis]. Tidak harus dengan dinner mewah [di warung tenda kumuh pun bisa]. Tidak harus dengan rangkaian bunga [seorang laki2 mengukir "will you marry me?" di pasir di pinggir jalan yang akan dilewati gadisnya, dan itu menurut saya sangat romantis].
Katakanlah kamu bukan pria romantis, ndeso, dan norak sekalipun. Bukankah hanya perlu modal “keinginan-untuk-melihat-calon-istri-bahagia” untuk melakukan itu? Katakanlah kamu tidak memiliki ide. Just ask Google with keyword: propose. Ratusan cara bisa dicontek disana.
Hmmm… saya hanya seorang gadis naif yang kuno. Romantisme beginian mungkin tak penting bagi sebagian orang. Dengan atau tanpa prosesi “will you marry me?”, esensi pernikahan akan tetap sakral. Dengan atau tanpa itu semua, rasa cinta ini tidak akan berkurang. Saya sadari itu berbarengan dengan kenyataan yang saya terima: tenyata saya sangat terluka begitu tau mimpi saya telah terkoyak paksa. Seumur hidup, saya akan tetap berkaca2 melihat mariage-proposal orang lain. Seumur hidup, hati saya akan tetap tersentuh melihat surprisednya seorang perempuan menerima pinangan, tanpa pernah merasakan menjadi perempuan itu.
Ini mungkin tidak penting, tapi hati saya terluka.



